Kesuksesan Keripik Maicih, Bukti Keunggulan Social Media

Bukti Keunggulan Social Media Sebagai Media Promosi. Produk Sederhana + Social Media = Dahsyat! Niat awal usahanya pada dasarnya klasik Ingin mencari tambahan uang untuk membantu keluarga. Bagi Reza Nurhilman atau biasa dipanggil Axl, demikian pemuda ini disapa, mengecap pahit manisnya bisnis sudah merupakan hal yang biasa baginya. Bungsu dari tiga bersaudara ini mengaku ketika ia lulus SMU pada tahun 2005 silam, perekonomian keluarganya mengalami kejatuhan. “Saya melihat mama saya bekerja keras membanting tulang untuk menghidupi ketiga anaknya. Oleh karena itu saya memutuskan untuk menunda kuliah terlebih dahulu agar dapat membantu perekonomian keluarga.” kenangnya.

Selamat empat tahun ia menganggur (2005 – 2009), Reza (Axl) menjalani berbagai macam bisnis seperti jual beli elektronik, pupuk, MLM dan juga berjualan kripik singkong pedas. Awal ia menjual kripik pedas tersebut bermula ketika ia bertemu seorang ibu – ibu separuh baya yang jago membuat kripik pedas dengan rasa yang lezat pada tahun 2008. Sayangnya, kripik pedas yang lezat dan tidak bermerk tersebut hanya dijual berdasarkan pesanan dan saat – saat tertentu saja dengan kuantitas yang terbatas. ” Waktu itu saya berpikir bahwa kripik ini mempunyai potensi yang cukup besar, sehingga mungkin dengan pemasaran yang baik maka kripik tersebut akan bisa diterima di pasaran.” ujarnya. Maka, dengan modal awal sebesar kurang lebih Rp. 15 juta Reza pun mencoba untuk memproduksi dan menekuni penjualan kripik pedas tersebut dengan lebih serius.

Awalnya Reza memasarkan produk tersebut justru dengan cara yang konvensional; door to door alias menawarkan secara langsung kepada kerabat dan teman – teman dekatnya. “Awalnya saya justru nyamperin teman dan kerabat saya satu persatu sambil memberi sampel keripik.” ujarnya. “Saat itu kapasitas produksi kami per hari masih sebesar 50 bungkus. Facebook dan Twitter pun juga saya gunakan sebagai alat pemasaran, tetapi masih sangat sederhana yaitu hanya sebatas chatting menawarkan produk saja.” tegas Axl. Melihat tanggapan pasar yang lumayan (walaupun ada juga yang mengaku tidak suka makan keripik pedas), Reza pun berpikir untuk memberi merk produk keripik pedasnya tersebut. “Saya memberi nama Maicih karena nama tersebut merupakan bagian dari memori saya ketika kecil.” kenangnya. “Dulu, waktu saya sering diajak mama ke pasar, suka ada ibu – ibu tua yang pake ciput (penutup kepala –red) dengan baju sekadarnya dan suka mengeluarkan uang receh dari dompet kecil yang ada risletingnya. Mama saya suka bilang bahwa itu adalah dompet Maicih. Nah… saya kemudian terpikir untuk memberi nama produk saya Maicih agar terkesan unik dan nyeleneh…” ujarnya sambil tertawa. Dengan lima level rasa pedas (level 1 – 5), konsumen dapat memilih rasa pedas yang diinginkan. Ternyata, setelah tiga bulan berjalan yang paling banyak digemari rasa pedasnya adalah level 3 dan 5. Maicih level 3 merupakan keripik dengan rasa pedas yang sedang dan dipasarkan dengan kemasan berlogo yang berwarna abu – abu. Sedangkan Maicih level 5 merupakan keripik dengan rasa super pedas yang ditandai dengan logo merah pada kemasannya. Satu bungkus keripik Maicih dibandrol dengan harga Rp. 11.000 dan diluar Jakarta Rp. 18.000.

Pemasaran mulai dikonsentrasikan pada aplikasi social media ketika salah satu temannya yang menggunakan Twitter menulis twit yang menerangkan kelezatan keripik Maicihnya. Ibarat bola salju, Maicih kemudian banyak diperbincangkan di dunia maya, utamanya Twitter, yang menceritakan tentang dahsyatnya rasa pedas yang terdapat pada keripik singkong Maicih. “Orang yang telah merasakan keripik Maicih pasti mempunyai testimoninya masing – masing. Nah, bagi saya tentu ini sudah menjadi semacam promosi gratis sehingga akan cepat menyebar dan membesar ibaratnya bola salju.” jelas Reza. Namun begitu tidak dipungkirinya bahwa ini kemudian memberinya ide promosi yang brilian dan kreatif. “Saya kemudian merancang sebuah strategi penjualan yang unik, yaitu berpindah – pindah dan hanya dapat diketahui dengan melihat status Facebook (#maicih) atau melalui akun Twitter kami (@infomaicih). Saya berharap strategi ini akan membuat orang menjadi semakin penasaran.” jelasnya.

Tak disangka – sangka ternyata strategi tersebut berhasil! Banyak yang menjadi semakin penasaran dengan keripik Maicih dan terus memburunya hingga dapat. Bahkan pernah di Bandung, konsumen harus rela antri berjam-jam mulai dari jam 5 sore sampai dengan jam 11 malam, sehingga antrian tersebut memanjang hingga satu kilometer. “Saya sempat kaget dan terkesima. Namun jelas ini merupakan suatu bukti bahwa konsumen sesungguhnya senang dengan sesuatu yang membuatnya penasaran.” ujar Reza sambil tersenyum.

Apa yang membuat keripik Maicih menjadi fenomenal Selain memang rasanya yang ‘kebangetan pedesnya’, harus diakui bahwa faktor yang paling utama menentukan kesuksesan keripik Maicih adalah kejeniusan strategi memasarkannya. Maicih tidak menggunakan media – media konvensional untuk memasarkan produknya, seperti misalnya memasang iklan pada koran atau majalah. Namun ia dengan jeli memanfaatkan kekuatan social media yang murah dan efisien. Dengan lokasi jualan yang selalu berpindah – pindah, konsumen diharuskan untuk memfollow akun Maicih baik di Facebook ataupun Twitter agar dapat mengetahui lokasi jualan yang berada di daerah sekitarnya. “Agar mereka selalu penasaran dan mengejar – ngejar kami, hahaha…” ungkapnya sambil tertawa. Produk Maicih sendiri didistribusikan melalui para agen mereka, atau yang Reza (Axl) biasa istilahkan sebagai Jendral, yang tersebar di berbagai daerah. Mengapa disebut Jendral “Itu sebenarnya hanyalah marketing mix saja agar dapat memberi nilai tambah atau added value. Produk saya kan cuman keripik. Kalau saya sebut dengan istilah agen misalnya, ya mungkin sama saja dianggap orang seperti agen minyak tanah atau yang sejenis. Tetapi kalo diistilahkan dengan Jendral, orang – orang akan langsung terbayang ‘oh itu agen keripik pedas Maicih’. Begitu kira – kira.” jelasnya. Walau begitu Reza (Axl) juga menambahkan bahwa sebenarnya faktor yang membuat sukses Maicih bukan hanya semata – mata strategi pemasarannya saja, melainkan juga di leadership. Yaitu bagaimana membuat tim yang telah dibangun menjadi loyal. “Dari omset yang kurang lebih Rp. 20 jutaan sebulan menjadi Rp. 4 milyar sebulan. Mana ada orang yang percaya kalo saya dulunya seperti itu” pungkasnya.

Pengalaman dari Reza atau Axl merupakan sebuah bukti keunggulan social media sebagai sebuah media promosi. Sebuah strategi pemasaran yang sangat kreatif dan terbukti telah menghasilkan ratusan juta rupiah setiap bulan bagi pemiliknya.

Jika kamu punya cerita lain atau pengalaman tentang bukti keunggulan social media sebagai sebuah media promosi, silahkan berkomentar dibawah.

 

Pencarian Terkait:

  • keunggulan yang membuat ma icih tidak kalah saing
  • keuntungan kripik makicah